Personal Blog

Let`s Make Indonesia Great

Category: Technology (Page 2 of 2)

Inilah 5 Tanda Bisnis Anda Akan Gagal

 Jika Anda merasakan tanda-tanda berikut, itu artinya bisnis Anda akan segera mengalami kegagalan.

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Indonesia Harus meniru E-Commerce China

Tujuan Anda

Sekali lagi, dalam berbisnis, tujuan Anda bukanlah uang. Memang siapa yang tidak mau mendapatkan uang dengan berbisnis. Menjadi seorang entrepreneur adalah untuk memecahkan masalah disekitar Anda, Anda membuat produk atau membuat inovasi agar masyarakat dapat memperoleh kemudahan. Misalnya Anda membuat website untuk melihat cuaca di suatu daerah, bukan lagi kota tetapi lebih detail. Atau Anda membuat kuliner baru. Ketika Anda berfokus dalam mengembangkan produk, uang akan datang dengan sendirinya.

Dukungan

Anda jangan terlalu sok untuk membuat bisnis hanya seorang diri. Perlu diketahui, setiap bisnis yang sudah terkenal diseluruh dunia, pasti dikerjakan oleh 2 orang lebih atau minimal 2 orang. Kenapa? Karena kekuatan kolaborasi sangat tinggi. Anda tidak akan bisa bertahan selama 1 tahun jika semuanya Anda kerjakan sendiri, walaupun Anda mempunyai karyawan sekalipun. Ingat, we better me.

Terlalu percaya diri

Ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda pasti mempunyai pikiran yang liar. Anda mempunyai pikiran liar tersebut karena membaca kisah-kisah sukses, Anda pasti ingin menjadi seperti mereka. Tetapi, jangan terlalu percaya diri. Dalam dunia entrepreneur, semuanya serba mendadak. Anda bisa mendadak bangkrut atau bahkan Anda bisa mendadak kaya mendadak. Jadi, pertama yang harus Anda lakukan adalah selalu berkonsultasi. Anda dapat menjadikan entrepreneur yang sukses menjadi panutan. Tetapi ingat, selalu percaya pada diri Anda sendiri, bukan orang lain.

Melupakan nilai

Seperti yang disebutkan di nomor pertama, apa tujuan Anda menjadi seorang entrepreneur. Untuk mendapatkan uang? Itu sudah pasti, tetapi itu bukan tujuan sebenarnya. Anda harus mempunyai nilai, nilai yang bisa bermanfaat. Misalnya, Anda mengetahui bahwa ada website, sebut saja Studentpreneur.co, website tersebut ternyata sangat sukses dalam bisnis untuk anak muda. Lalu Anda mencoba hal yang sama, membeli domain dan menulis soal bisnis. Padahal, Anda tidak mempunyai passion dibidang itu. Anda harus fokus pada bidang yang memang Anda kuasai dan memang berguna untuk masyarakat nantinya.

Waktu

Inilah 5 Tanda Bisnis Anda Akan Gagal tips  studentpreneur

Anda tidak membuat bisnis dan mendapatkan kesuksesan hanya selama 2 bulan atau bahkan setahun. Anda tidak boleh menentukan deadline kapan Anda sukses, misalnya “Saya harus sukses selama 1 tahun, jika tidak sukses maka saya akan mundur”. Anda boleh menentukan deadline agar bisnis Anda terus berjalan, tetapi jangan sampai Anda akhirnya mundur karena lamanya mendapatkan kesuksesan.

 Baca juga: 5 Alasan Mengapa Indonesia Harus meniru E-Commerce China

http://goo.gl/P8AGZW

10 tren e-commerce di Asia Tenggara tahun 2015

Kotagrosir.com – Felicia merupakan kepala corporate communications di aCommerce, sebuah perusahaan penyedia layanan e-commerce di Asia Tenggara.

Baca juga: Peluang dan Tantangan E-Commerce Asia Tenggara dan Indonesia

Meskipun banyak langkah besar terjadi di ranah e-commerce Asia Tenggara pada tahun lalu, wilayah ini sebenarnya masih berada di awal perjalanan ritel online. Dengan pendanaan sebesar USD 249 juta (Rp 3,14 triliun) yang didapat SingPost dari Alibaba, USD 100 juta (Rp 1,2 triliun) yang didapat Tokopedia, dan dana USD 250 juta (Rp 3,15 triliun) yang dimiliki Lazada, Asia Tenggara menerima banyak sekali kucuran pendanaan.

Terlepas dari banyaknya dana, beberapa prediksi gagal membuahkan hasil. Mobile commerce, misalnya, tidak meledak seperti yang diharapkan. Bahkan setelah keberhasilan Line flash sale yang menjual habis barang secara online hanya dalam hitungan menit pada Januari 2014. Meskipun muncul sebagai saluran penjualan baru bagi banyak orang Asia Tenggara, banyak orang memang lebih cenderung melakukan browsing melalui gadget tapi hanya sedikit yang melakukan pembelian. Menurut pengamatan aCommerce, pasar Singapura sudah penuh dan negara tersebut tidak memberi keuntungan dibanding pasar lainnya, seperti Indonesia dan Thailand.

Well, jangan terlalu condong pada masa lalu, kini sudah saatnya kita melihat ke depan. Kali ini saya akan menyuguhkan prediksi e-commerce di Asia Tenggara untuk tahun 2015. Artikel ini dibuat berdasar sumber-sumber primer (wawancara dengan investor dan eksekutif, serta data internal) dan sumber-sumber sekunder (berupa artikel dan laporan) dari Januari 2014 hingga Desember 2014.

acommerce-future-ecommerce-720x433

 

 

1. Tahunnya merger dan akuisisi

Jika 2014 merupakan tahun dimana banyak dana yang dikucurkan di Asia Tenggara, maka tahun 2015 akan menjadi tahun dimana startup mulai kehabisan tenaga atau kapasitas untuk memanfaatkan potensi pertumbuhan organik yang besar di wilayah ini. Mengapa? Karena ritel business-to-consumer (B2C), khususnya di negara seperti Indonesia dan Filipina, membutuhkan banyak modal. Hal ini kemungkinan akan mendorong konsolidasi di ranah B2C pada tahun 2015 dan seterusnya. Kedua, dengan terus masuknya modal, perusahaan B2C diharuskan mempercepat pertumbuhan mereka dengan mengakuisisi atau merger dengan pemain lain di ranah ini. Ranah e-commerce B2C masih terfragmentasi tetapi pendatang awal seperti Lazada, dengan banyaknya dana, sudah memimpin di depan dan membuat kompetisi jauh lebih sulit bagi pemain yang lebih kecil.

Aliansi akan terbentuk. Kita telah menyaksikan awal koalisi e-commerce di Thailand dengan perusahaan seperti Whatsnew, Wear You Want dan MOXY yang bekerja sama untuk tetap tetap bisa bersaing. Hanya menunggu hitungan waktu bagi mereka untuk berkonsolidasi. Contoh lainnya: Lazada merambah fashion dengan label LZD. Apa yang membuatnya tidak bergabung dengan Zalora? Bayangkan skala ekonomi dan penghematan yang bisa dilakukan, karena jika bergabung maka hanya membutuhkan usaha marketing untuk satu website dan mengaktifkan hanya satu basis pengguna (keterangan: Lazada Thailand and Wear You Want adalah klien aCommerce. Wear You Want adalah anak perusahaan Ardent Capital).

“Dengan begitu banyak uang yang dikucurkan di pasar, pemain besar ingin melakukan pembelian. – Paul Srivorakul, Group CEO aCommerce dan executive chairman di Ardent Capital.”

 

2. Agensi digital akan beradaptasi atau punah

Agensi pemasaran digital sudah tahu selama bertahun-tahun bahwa e-commerce adalah pasar booming yang masih terus berjuang mengembangkan produk dan layanan e-commerce untuk para klien. Agensi digital tidak memiliki struktur insentif, budaya, dan bakat yang tepat untuk membuat hal ini terjadi, sebagaimana yang diutarakan Sheji Ho dalam Reasons You Should Fire Your Agency. Agensi digital akan mencoba untuk mengatasi ini dengan berubah arah seperti yang dilakukan WPP di China dengan akuisisi perusahaan mitra Taobao – agensi yang mengelola dan mengoperasikan Taobao dan Tmall untuk brand seperti Nike dan L’Oreal. aCommerce menyaksikan ketika Huawei memilih divisi pemasarannya dibanding agensi tradisional lain, atau ketika Uber dan Kiehl’s bermitra dengan agensi pemasaran ini (keterangan: Kiehl’s merupakan klien end-to-end aCommerce).

“Tanpa mengubah DNA (model bisnis) mereka, agensi akan terus mengejar e-commerce unicorn, dan kehilangan bisnis mereka untuk agensi yang berfokus pada e-commerce seperti kami. – Sheji Ho, Group CMO aCommerce.”

 

3. Ranah marketplace akan makin sesak

Terinspirasi oleh IPO Alibaba senilai USD 25 miliar, banyak perusahaan ingin mendirikan marketplace mereka sendiri. Selain pemain lama seperti Lazada dan Rakuten, kita akan melihat perusahaan telekomunikasi, perusahaan media, bank, serta retailer B2C memasuki ranah ini. Menurut CEO Lazada Max Bittner, 70 persen barang Lazada berasal dari penjual pihak ketiga. Perusahaan-perusahaan ini mencari cara tambahan untuk menghasilkan nilai dari basis pengguna mereka di luar value-added services (VAS) biasa. Masuknya tambahan modal, yang paling terkenal adalah investasi dari Softbank ke Tokopedia, akan mengakibatkan persaingan yang sengit di ranah yang sudah sesak ini.

“Seiring dengan semakin memanasnya model marketplace, brand harus mampu menerapkan pendekatan omni-channel dan customer-centric terhadap ritel dengan memastikan bahwa produk mereka tersedia di semua platform tersebut. Berinvestasi dalam aspek teknologi atau mitra untuk mendistribusikan produk secara lancar akan menjadi pembeda utama untuk kesuksesan para brand pada 2015. – Paul Srivorakul”

 

4. E-commerce lintas negara akan semakin pesat berkat AEC

Beberapa tren penting akan membantu mempercepat e-commerce lintas negara pada tahun 2015.

Asean Economic Community (AEC) akan membuka perbatasan dan merangsang perdagangan di seluruh Asia Tenggara melalui kemampuan logistik yang lebih baik.

Perusahaan seperti Amazon dan ASOS sudah melihat negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, dan Indonesia sebagai pasar mereka yang tumbuh tercepat di Asia. Sebagai contoh, ShopBop milik Amazon baru-baru ini melakukan promosi Black Friday/Cyber Monday lintas negara dengan Line dan aCommerce. AEC akan menjadi kekuatan untuk tren ini.

Seiring stabilnya pasar China, perusahaan China seperti Alibaba dan JD kini melirik pasar Asia Tenggara untuk bertumbuh.

“Baru saja melakukan IPO dan mendapat uang yang banyak, memberikan tekanan [bagi perusahaan] untuk tumbuh lebih cepat. Berekspansi ke pasar lain adalah salah satu cara untuk melakukan hal ini dibanding berkutat di pasar China yang kejam. – Paul Srivorakul”

5. Evolusi demografis: entrepreneur asing akan membanjiri pasar Asia Tenggara

Setelah China dan India, Asia Tenggara mungkin adalah pasar paling hot di Asia untuk tempat bekerja bagi pekerja di ranah e-commerce dan teknologi. Kita mulai melihat masuknya orang-orang yang tertarik dengan pasar e-commerce yang booming ini secara organik. Tahun lalu kita melihat lebih banyak entrepreneur asing ingin bekerja di Asia Tenggara, sedangkan di masa lalu kita harus secara aktif merekrut orang asing.

Tren ini akan berlanjut pada tahun 2015 karena Eropa masih terus berjuang dan pemulihan ekonomi di AS masih akan berlangsung dalam beberapa tahun. Kucuran pendanaan, selain mengatasi permasalahan dalam hal kapasitas di pasar lokal, juga meningkatkan banyaknya talenta dan pencapaian, seperti yang telah dilakukan lulusan Rocket Internet dalam beberapa tahun terakhir, baik dalam bisnis mereka sendiri atau sebagai bagian dari bisnis orang lain.

 

6. Uber untuk logistik dan Uber untuk “ini” dan “itu”

Uber seperti sebuah marketplace. Startup ini bisa dibilang sebagai crowdsourcing – menghubungkan pembeli dan penjual. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Uber merupakan sebuah aplikasi dan 2015 akan menjadi tahun dimana Uber dan GrabTaxi akan lebih serius merambah bisnis logistik.

 

Amazon sudah menguji pengiriman via Uber. Uber juga baru bermitra dengan Kiehl’s dan aCommerce untuk mendistribusikan produk Kiehl’s ke pengemudi Uber di Bangkok. Di Filipina, Uber bergabung dengan LBC Express, perusahaan kargo dan logistik terbesar Filipina, untuk memberikan hadiah Natal on-demand. Persaingan di ranah ini akan memanas. GrabTaxi beberapa waktu lalu mendapatkan pendanaan sebesar USD 250 juta (atau sekitar Rp 3,15 triliun) dari Softbank, sedangkan Uber memiliki dana sebesar USD 2,7 miliar (atau sekitar Rp 34,1 triliun) di pihaknya.

Selain itu, Uber akan menerima USD 600 juta (Rp 7,58 triliun) dari Baidu untuk mendorong ekspansi Asia-nya. Semua dana tersebut pasti akan meningkatkan persaingan dalam bisnis booking taksi dan akan mempercepat inovasi di bidang lain seperti logistik dan pengiriman. Dengan infrastruktur logistik yang belum berkembang di sebagian besar Asia Tenggara, perusahaan seperti Uber dan GrabTaxi akan jauh lebih baik diposisikan untuk memberikan nilai lebih melalui layanan pengiriman di wilayah ini daripada di pasar asal mereka yang lebih maju seperti Amerika Serikat atau Malaysia.

“Mereka sudah memiliki infrastruktur dan teknologi sehingga jika tidak ada cukup permintaan, mereka bisa mengisi waktu mereka dengan melakukan pengiriman, terutama ketika waktu jalanan sepi, seperti selama jam kerja. Sekarang Uber, GrabTaxi, dan Easy Taxi semua berlomba-lomba untuk menarik pelanggan yang sama. Pada titik tertentu mereka perlu mengembangkan pasar. – Peter Kopitz, Group COO aCommerce”

 

7. Mobile commerce masih bermasalah dengan user experience

2014 membuktikan potensi dan memunculkan aplikasi untuk ‘mobile’ sebagai channel belanja di Asia Tenggara, yang sebagian besar dilakukan oleh aplikasi chatting Line. Aplikasi ini memasuki ranah mobile commerce dengan tajuk promosi seperti Line flash sale melalui kerjasama dengan aCommerce. Perusahaan yang berbasis di Jepang ini juga baru saja meluncurkan marketplace mobile consumer-to-consumer (C2C) yang disebut Line Shop. Dengan peluncuran Line Pay dan pembayaran mobile lainnya memasuki pasar, tingkat konversi mobile akan meningkat. Namun kami memperkirakan bahwa mobile commerce masih beberapa tahun lagi untuk bisa menyalip desktop.

 

Pada bulan Februari ketika kami melakukan studi kasus tentang mobile commerce, kami menemukan bahwa penggunaan utama mobile adalah untuk browsing. 89 persen pengguna Line melakukan browsing di mobile tetapi hanya 56 persen dari seluruh transaksi di Thailand yang benar-benar membeli. 10 bulan kemudian saat meninjau data klien kami, proyeksi mobile tetap sangat kecil. Untuk klien besar kami, transaksi mobile masih stabil di angka 10 persen dari total transaksi dalam 30 hari terakhir, meskipun memiliki website yang mobile responsive.

Awal tahun ini, jurnalis Jon Russell menyatakan pendapatnya tentang tren mobile commerce: “Ini […] menantang keyakinan bahwa mobile commerce sudah menyaingi e-commerce. Tren tersebut bisa terjadi di masa depan, karena penetrasi smartphone terus bertumbuh, tetapi tidak untuk sekarang.” Alasan utamanya adalah user experience di mobile belum dioptimalkan untuk aktivitas belanja dan retailer baru di tahun ini tidak akan langsung mengembangkan aplikasi.

 

aCommerce menemukan bahwa banyak brand yang memilih e-commerce melalui desktop dan website mobile responsive daripada mengembangkan sebuah aplikasi yang mahal. Tapi meskipun desktop mungkin masih dominan dibanding mobile, perusahaan diminta untuk mengambil keputusan strategis jangka panjang dan memulai berinvestasi di ranah mobile saat ini, apakah itu membuat website yang mobile responsive atau membuat aplikasi mobile. Ada banyak kesempatan untuk bertumbuh di sini.

Asia Tenggara merupakan pasar yang mobile-first dan agar tetap bisa bersaing kami perlu strategi mobile-only. – investor potensial yang tengah melirik Asia Tenggara, Desember 2014.

 

8. E-commerce B2B akan menjadi tren

Setelah lama dibayangi oleh kepopuleran model e-commerce business-to-consumer (B2C), business-to-business (B2B) akan berjaya pada tahun 2015. Investor dan perusahaan akan mulai serius dan menyadari bahwa B2C, meskipun masih sangat hot, harus menghadapi persaingan yang ketat dan memiliki margin yang sedikit, terutama di pasar negara berkembang dimana sebagian besar produk terlaris merupakan produk konsumen bermargin rendah seperti barang elektronik dan ponsel. B2B tidak akan membantu Anda mendapatkan banyak pelanggan tetapi akan membuat Anda mendapat banyak pendapatan.

Di China misalnya, semua orang berbicara tentang Tmall dan JD serta B2C yang terus bertumbuh tetapi hampir tidak ada orang berbicara tentang B2B. Padahal B2B menyumbang lebih dari 75 persen total nilai barang bruto (GMV) e-commerce di China, dimana dua pertiganya berasal dari UKM B2B. Dan bukan hanya pasar negara berkembang yang berfokus pada B2B. Bos Amazon Jeff Bezos berinvestasi sebesar USD 8 triliun di AmazonSupply, lengan bisnis B2B Amazon yang menargetkan model bisnis yang tidak seksi tapi sangat menguntungkan ini.

“Klien e-commerce B2C kami terus meminta kami untuk [membuka] toko online B2B. Kami melihat ini sebagai kesempatan besar. – Paul Srivorakul”

9. Cash on Delivery (COD) masih merajai Asia Tenggara

COD menyelesaikan dua masalah terbesar pembeli online di Asia Tenggara, yaitu penipuan produk dan pembayaran. Sebagian besar konsumen masih takut memberikan informasi kartu kredit atau kartu debit mereka secara online. Mereka juga khawatir tidak menerima barang yang telah mereka beli. Selain itu, banyak konsumen tidak memiliki kartu kredit, dan uang tunai tetap menjadi pilihan pembayaran mereka. Semua masalah tersebut ditambah dengan sulitnya penanganan pembayaran melalui transfer bank dan ATM, pembayaran di counter, dan Paypal, membuat tingginya tingkat pembatalan. Ini membuat COD menjadi pilihan yang paling diandalkan. Sekitar 70 persen pesanan secara online di sebagian besar negara di Asia Tenggara adalah melalui COD. Tarif pembatalan untuk pembayaran melalui counter, transfer bank dan atm adalah antara 50 sampai 70 persen, sedangkan COD hanya 5 hingga 8 persen.

“Untuk memenangkan e-commerce di Asia Tenggara, perusahaan perlu menerapkan cash on delivery, tidak peduli bagaimanapun sulitnya. Sama seperti same day delivery yang diterapkan Jeff Bezos di Amazon, COD merupakan standar layanan yang diperlukan untuk pasar kita. – Paul Srivorakul”

 

10. Pengiriman menggunakan drone akan terjadi

Tidak.

Baca juga: Peluang dan Tantangan E-Commerce Asia Tenggara dan Indonesia

source by : http://goo.gl/cHtw1i

Peluang dan tantangan e-commerce di Asia Tenggara dan Indonesia

Kotagrosir.com – Baru-baru ini, perusahaan konsultasi manajemen, A. T. Kearny, bekerjasama dengan CIMB ASEAN Research Institute (CARI) mengumumkan sebuah laporan mengenai kondisi e-commerce di Asia Tenggara. Laporan berjudul Lifting the Barriers to E-commerce in ASEAN tersebut menjabarkan data peluang dan tantangan e-commerce di ASEAN 6 (enam negara di Asia Tenggara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina).

Baca juga : 28 kisah founder startup di tahun 2014 yang harus Anda baca!

Menurut laporan tersebut, e-commerce di Asia Tenggara masih belum begitu berkembang. E-commerce di kawasan ini menyumbang kurang dari satu persen pasar e-commerce dunia. Saat ini, pasar e-commerce di ASEAN 6 bernilai sekitar USD 7 miliar (Rp 89,8 triliun).

ecommerce-di-asia-tenggara

Kali ini, mari kita berfokus pada Indonesia. Pada gambar di atas, kita bisa melihat bahwa meski Indonesia memiliki sekitar 39 juta pengguna internet pada tahun 2013, jumlah pembeli online di negara ini masih sedikit jika dibandingkan negara lain. Indonesia hanya memiliki sekitar lima juta pembeli online, yang hanya sekitar 12 persen dari jumlah pengguna internet di negara ini. Singapura memang memiliki jumlah pembeli online yang lebih sedikit (3,2 juta), namun perlu diingat bahwa negara ini memiliki jumlah penduduk yang sedikit pula yakni sekitar 5,5 juta. Bagaimanapun, nilai pasar e-commerce di Indonesia termasuk yang paling tinggi yakni USD 1,3 miliar (Rp 16,7 tiliun), sama dengan Malaysia dan di belakang Singapura yang memiliki nilai pasar tertinggi yakni USD 1,7 miliar (Rp 21,8 triliun). Hal ini mungkin dikarenakan daya beli yang tinggi di negara ini.

pengguna-internet-di-asia-tenggara

Menariknya, sekitar 61 persen pembeli online di Indonesia membeli melalui perangkat mobile mereka. Negara seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam juga memiliki jumlah pembeli online melalui perangkat mobile yang tinggi. Animo pembelian melalui perangkat mobile yang tinggi ini disinyalir karena masih belum memadainya fasilitas fix broadband di negara-negara tersebut. Selain itu, banyaknya smartphone murah di pasaran juga bisa menjadi salah satu alasan. Bagaimanapun, seiring dengan daya beli yang terus meningkat, penetrasi internet yang kian tinggi, dan makin banyaknya layanan yang ditawarkan, pasar e-commerce di Asia Tenggara diprediksi akan mencapai hingga 25 persen di beberapa tahun mendatang. Pasar e-commerce di Indonesia bahkan diprediksi akan bernilai USD 25 miliar (Rp 320,8 triliun) hingga USD 30 miliar (Rp 385 triliun), dari yang tadinya hanya USD 1,3 miliar (Rp 16,7 triliun).

potensi-ecommerce-asia-tenggara

Tantangan yang harus dihadapi dan solusi

Untuk mewujudkan pertumbuhan pasar e-commerce tersebut, laporan ini merangkum lima hal yang harus dilakukan oleh negara-negara di Asia Tenggara:

1. Meningkatkan akses internet

kecepatan-internet-asia-tenggara

Konektivitas internet di negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina terbilang masih sangat rendah. Di negara dengan banyak pulau seperti Indonesia, jangkauan jaringan terbatas dan tidak merata. Ditambah lagi, kecepatan internet yang lambat dan biaya yang mahal juga menjadi faktor penghalang penetrasi internet. Menggunakan dana pemerintah untuk meningkatkan jangkauan internet, meningkatkan konektivitas antar-wilayah, serta meningkatkan awareness masyarakat tentang pentingnya internet menjadi beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

2. Mendukung munculnya pemain lokal

Meskipun beberapa pemain besar lokal sudah ada, tak jarang masyarakat masih lebih tertarik menggunakan layanan dari luar negeri. Alasannya, banyak masyarakat yang masih skeptis terhadap layanan yang ditawarkan pemain lokal. Selain itu, kurangnya dana, talenta, dan dukungan menyebabkan enggannya pemain lokal untuk terjun bersaing di pasar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu adanya akses finansial yang membantu para calon pemain lokal, misalnya memberikan pinjaman atau dana hibah. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa program inkubasi dan akselerasi yang membantu perkembangan talenta dan memberi dukungan kepada para startup baik dari segi mentoring maupun pendanaan.

3. Memperkuat keamanan online

peraturan-hukum-internet

Banyak konsumen di negara Asia Tenggara yang belum percaya pada transaksi online. Tidak ada atau kurang jelasnya peraturan hukum yang mengatur tentang keamanan dalam bertransaksi online menjadi salah satu penyebab ketidakpercayaan tersebut. Selain itu, masyarakat juga masih khawatir terhadap adanya cyber attack, yang membuat mereka enggan bertransaksi secara online. Saling berbagi informasi dan cara penanggulangan terbaik dengan negara-negara Asia Tenggara lain merupakan salah satu solusi yang direkomendasikan laporan ini. Selain itu, pengadaan peraturan hukum yang transparan juga bisa menjadi cara untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Di Indonesia sendiri, seperti yang terlihat dalam tabel, hukum yang mengatur privasi dan perlindungan konsumen di negara ini masih kurang memadai. Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk membuat peraturan hukum yang transparan dan adil guna meningkatkan kepercayaan konsumen tanah air.

 

4. Mempromosikan e-payment

kondisi-epayment-asia-tenggara

Meski melakukan transaksi pembelian secara online, banyak pembeli di Asia Tenggara yang melakukan pembayaran secara offline dengan adanya layanan seperti cash-on-delivery. Selain karena khawatir akan keamanan data, banyak masyarakat di negara-negara Asia Tenggara yang tidak memiliki rekening bank. Dalam hal ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk un-banked (tidak memiliki rekening bank) terbanyak, yakni 70 persen hingga 80 persen. Ini berdampak pada rendahnya penggunaan e-payment oleh para konsumen yang melakukan belanja online. Di Indonesia, hanya ada sekitar 4 persen konsumen online yang menggunakan online payment sebagai metode pembayaran mereka. Di antara enam negara di ASEAN 6, hanya Singapura yang memiliki jumlah pengguna e-payment yang banyak, yakni sekitar 50 persen. Saat ini, hal yang tengah dilakukan adalah memperbanyak layanan e-payment bagi konsumen. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa pemain e-payment seperti Doku dan iPaymu. Pemberlakuan peraturan e-payment yang jelas dari pemerintah juga bisa menjadi salah satu cara untuk mempromosikan e-payment. Selain itu, upaya mengkonversi penduduk un-banked untuk memiliki rekening bank juga perlu dilakukan.

 

5. Meningkatkan efisiensi logistik dan perdagangan

infrastruktur-logistik-ecommerce-asia-tenggara

Selain isu kepercayaan, pengiriman menjadi salah satu faktor yang menyebabkan enggannya masyarakat membeli secara online. Biaya pengiriman yang mahal serta masih buruknya infrastruktur transportasi di negara-negara Asia Tenggara, khususnya negara kepulauan seperti Indonesia menjadi faktor kurang efisiennya pengiriman. Untuk mengatasi hal tersebut, selain meningkatkan infrastruktur transportasi, kesiapan layanan logistik juga penting untuk ditingkatkan. Pemain e-commerce bisa bekerjasama dengan penyedia layanan logistik untuk lebih meningkatkan layanan pengiriman mereka.

Melihat peluang dan tantangan pasar e-commerce di Asia Tenggara, kawasan ini memiliki potensi yang sangat besar di masa mendatang. Jika semua kendala yang ada seperti fasilitas, infrastruktur, peningkatan awareness masyarakat bisa diatasi dengan baik, bukan tidak mungkin Asia Tenggara menjadi kawasan yang diperhitungkan di masa depan.

Anda bisa membaca laporan lengkapnya di sini.

Source by : http://goo.gl/eExNY4

18 kesalahan yang dapat membuat startup gagal

Kotagrosir.com – Paul Graham merupakan salah satu co-founder Y Combinator, program akselelator startup tahap awal yang berbasis di Silicon Valley, Amerika Serikat. Program Y Combinator sendiri dimulai dari tahun 2005, dan hingga sekarang telah menerima lebih dari 700 startup, beberapa diantaranya seperti 9gag, Reddit, Dropbox, Airbnb, dan masih banyak lagi. Dengan total nilai valuasi portofolio mencapai USD 30 miliar (Rp 378 triliun), Y Combinator bahkan dilaporkan menjadi perusahaan akselerator yang memberikan total pendanaan paling besar dibandingkan dengan jumlah yang diberikan akselelator lain apabila digabungkan. Selain itu Paul Graham juga merupakan seorang blogger. Di dalam blog pribadinya, ia sering mengulas tentang saran, nasihat, atau tips-tips bagi startup dari pengalamannya mendirikan sejumlah startup dan menjadi seorang mentor dan investor di Y Combinator. Salah satu artikel menarik dari Paul dan yang akan kami bahas kali ini adalah “18 kesalahan yang akan membunuh startup”:

Baca juga: 13 Nasihat untuk Startup tetap bertahan

1. Satu orang founder

Mendirikan startup seorang diri merupakan hal yang sangat sulit. Walaupun Anda bisa melakukan semua pekerjaan, Anda tetap memerlukan teman untuk berbagi pendapat, membahas ide-ide gila, atau membuat Anda gembira di saat terpuruk. Jadi menurut Paul, dibalik startup yang sukses terdapat tim yang kuat dan idealnya dalam sebuah startup terdiri dari dua atau tiga orang founder.

2. Pemilihan lokasi yang kurang tepat

Anda bisa melihat bagaimana industri lain memilih lokasi. Misalnya industri pertambangan pasti akan memilih daerah yang berpotensi untuk ditambang, entah itu emas, batu bara, atau bahan pertambangan lainnya. Hal ini juga harus diterapkan saat Anda mendirikan startup. Alasan utamanya adalah karena dengan memilih lokasi yang tepat, misalnya kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, startup Anda akan memiliki potensi yang lebih besar untuk berkembang.

3. Menghindari kompetitor

Apabila ide startup Anda bagus, pasti akan memiliki kompetitor, dan mau tidak mau Anda harus menghadapi itu. NNamun, jika Anda menghindari kompetitor dengan cara mengurangi kualitas atau keuntungan maka hal itu bisa berujung kegagalan pada startup Anda.

4. Memecahkan masalah yang sama

Jika Anda melihat startup yang sukses, beberapa diantaranya merupakan “tiruan” dari startup yang sudah ada. Misalnya di Indonesia ada Tokopedia atau Bukalapak, website e-commerce marketplace dengan model bisnis costumer to costumer (C2C). Dua website ini mirip dengan eBay, website e-commerce yang sangat sukses di Amerika Serikat. Hal itu terjadi karena saat Tokopedia dan Bukalapak didirikan, belum ada pemain lain yang memecahkan masalah itu di Indonesia. Dan tentu saja, Tokopedia dan Bukalapak telah berhasil melokalisasi ide bisnis tersebut agar sesuai dengan kebutuhan pasar tanah air.

Sedangkan apabila Anda ingin meniru startup-startup yang sudah berkembang dan dikenal di Indonesia seperti Facebook dan Google, hal itu bisa dibilang sia-sia. Jadi daripada Anda memecahkan masalah yang sama akan lebih baik mencari masalah lain dan membayangkan bagaimana startup Anda akan memecahkan masalah tersebut.

5. Tidak beradaptasi

Di tahap awal pendirian startup, Anda pasti mempunyai sebuah misi atau visi khusus yang ingin diselesaikan. Tapi dalam perjalanan startup Anda, kemungkinan besar hal itu akan berubah seiring perkembangan startup. Misalnya awalnya Anda menggunakan model bisnis business to business (B2B) untuk sebuah produk, dan menemukan bahwa hal itu tidak berhasil. Maka Anda mungkin harus merubah model bisnis untuk menyelesaikan masalah yang berbeda, mungkin dengan merubah model bisnis menjadi business to consumer (B2C). Banyak startup yang sukses setelah merubah ide awal mereka. Salah satu kisah dari gagal menjadi sukses adalah Twitter. Startup ini awalnya merupakan layanan agregator podcast yang kemudian berubah menjadi website micro blogging.

6. Salah merekrut pegawai khsususnya programer

Memilih programer merupakan salah satu hal penting dalam mendirikan startup. Tapi memilih programmer yang tepat bukanlah perkara mudah dan walaupun ada jumlahnya sangat sedikit. Programmer tentunya adalah orang yang akan membangun platform Anda, dan apabila salah merekrut, Anda akan ketinggalan jauh dan tersaingi oleh kompetitor.

7. Salah memilih platform

Selain merekrut programmer yang tepat, Anda juga harus memilih platform yang tepat untuk startup Anda. Memilih platform yang salah bisa membebani startup Anda atau yang lebih buruk lagi Anda bisa kehilangan pengguna. Misalnya memilih server untuk website Anda, apabila performa server lambat tentunya pengguna menjadi enggan mengunjungi website Anda. Lalu bagaimana memilih platform yang tepat? Paul mengungkapkan caranya adalah dengan mencari programmer yang tepat dan membiarkan mereka memilih platform yang tepat.

8. Menunda-nunda peluncuran

Banyak startup yang menunda-nunda peluncuran startup mereka karena merasa software atau layanan mereka belum siap 100 persen. Beberapa alasan lain seperti tidak terlalu mengerti akar permasalahan yang akan dipecahkan, takut menghadapi konsumen dan takut dihakimi, atau terlalu sibuk mengerjakan hal lain. Semakin lama Anda menunda peluncuran startup, maka semakin lama Anda akan mendapat jawaban dari permasalahan tesebut.

9. Merilis produk terlalu dini

Paul mengungkapkan bahwa merilis produk terlalu dini bahkan membunuh lebih banyak startup yang meluncurkan produk mereka terlalu cepat. Hal ini akan berdampak pada reputasi startup Anda. Apabila meluncurkan terlalu dini, kemudian sejumlah orang mencobanya, dan apabila itu tidak bagus tentunya mereka tidak akan kembali lagi.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk meluncurkan startup? Paul memberi beberapa saran; Pertama adalah membuat perencanaan yang matang. Kedua adalah mengidentifikasi dua inti permasalahan utama, yaitu apakah startup yang Anda buat itu bermanfaat dan bisa berkembang menjadi proyek lain. Ketiga adalah menyelesaikan proyek tersebut secepat mungkin.

10. Tidak memikirkan target pengguna

Apabila Anda membuat sebuah produk untuk orang lain, maka Anda harus membuat produk tersebut sesuai dengan permintaan pengguna dan disertai data yang tepat sebagai acuan. Misalnya apabila Anda ingin membuat sebuah produk khusus anak muda atau pebisnis, Anda harus bicara langsung untuk mengetahui apa kebutuhan mereka. Sehingga produk yang Anda buat tepat sasaran.

11. Menggalang dana terlalu sedikit

Sebagian besar startup yang sukses pernah mendapatkan pendanaan. Besar kecil jumlah dana yang diperoleh akan sangat berdampak pada startup Anda. Misalnya bila pendanaan yang Anda peroleh terlalu sedikit, kemungkinan besar startup Anda tidak bisa menyelesaikan proyek. Jadi saat berhadapan dengan investor, pastikan jumlah dana yang Anda ajukan cukup untuk menyelesaikan proyek dan membawa startup Anda ke level yang lebih tinggi. Anda mempunyai kendali antara berapa besar uang yang dikeluarkan dan apa tahap selanjutnya. Paul menyarankan untuk mengatur keduanya serendah mungkin: sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan dana sama sekali, dan tujuan utama Anda adalah membuat produk prototipe yang setidaknya siap digunakan.

12. Terlalu boros

Memang sulit membedakan apakah sebuah startup menghabiskan terlalu banyak uang atau mendapatkan pendanaan dengan jumlah yang kecil. Cara termudah untuk mengetahui hal ini adalah dengan membandingkan dengan startup lain. Misalnya apabila mendapat investasi sebesar Rp 500 juta, dan Anda sudah kehabisan uang sebelum mencapai target, itu berarti Anda terlalu boros. Cara terbaik untuk menghabiskan dana adalah merekrut pegawai. Paul memberikan tiga-tips bagaimana cara merekrut. Pertama, jangan lakukan itu apabila Anda bisa menghindarinya. Kedua, bayar dengan pembagian saham daripada gaji, tidak saja untuk menghemat uang, tapi juga untuk mengetahui mana orang yang benar-benar berkomitmen. Ketiga, rekrut programmer atau orang yang dapat membantu Anda mendapat pengguna, karena itu adalah dua hal penting yang perlu Anda lakukan pertama.

13. Menggalang dana terlalu banyak

Saat Anda mendapatkan pendanaan dengan jumlah yang besar, hal itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Semakin besar jumlah investasi yang diperoleh maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk mencarinya. Bahkan terkadang waktu untuk mencari pendanaan lebih lama daripada waktu yang dihabiskan untuk mengembangkan startup itu sendiri. Jadi Paul memberi saran kepada founder yang sedang mencari pendanaan dari investor untuk menerima tawaran pertama yang menurut Anda tepat. Khususnya apabila Anda mendapat tawaran dari perusahaan terkenal, dengan nilai valuasi yang masuk akal, dan tanpa peraturan yang berbelit-belit. Paul menyarankan untuk mengambil kesempatan ini, sehingga waktu tidak terbuang-buang untuk mencari pendanaan.

14. Manajemen investor yang buruk

Sebagai founder, Anda harus menjaga hubungan dengan investor. Anda tidak boleh mengabaikannya, karena mereka pastinya memiliki hal-hal yang berguna untuk Anda. Tapi Anda juga tidak boleh membiarkan investor menjalankan perusahaan Anda. Karena itu adalah tugas Anda sebagai founder. Seberapa keras Anda harus menjalin hubungan dengan investor biasanya tergantung pada berapa besar pendanaan yang Anda peroleh. Apabila investor memiliki sebagian besar saham, bisa dibilang investor itu adalah bos dan memiliki kontrol yang kuat terhadap startup Anda. Tapi apabila startup Anda berjalan dengan lancar, hal itu bukanlah masalah dan VC biasanya tidak akan ikut campur.

15. Mengorbankan pelanggan demi profit

Paul menjelaskan bahwa membuat sesuatu yang diinginkan dan diperlukan pengguna jauh lebih susah dan lebih penting daripada model bisnis — untuk mendapat uang. Contohnya, Google membuat mesin pencari yang sangat bermanfaat, setelah itu baru mereka memikirkan bagaimana menghasilkan uang dari mesin pencari tersebut.

16. Tidak mau susah

Apabila Anda seorang founder yang memiliki latar belakang programmer, sadarlah tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kode-kode. Anda perlu relasi untuk mengembangkan bisnis. Anda juga perlu bertemu langsung dengan pengguna Anda untuk mengetahui apa yang mereka inginkan. Pergi keluar dan bertemu langsung dengan mereka merupakan cara yang tepat untuk mengetahui hal itu.

17. Konflik antar founder

Konflik antar founder merupakan hal umum yang terjadi, karena satu sama lain memiliki pendapat yang berbeda. Hal ini terjadi di sejumlah startup, dan biasanya founder yang kurang berkomitmen akan keluar. Jika ada tiga founder dan salah satu yang memiliki peran utama keluar, hal itu merupakan masalah besar. Sedangkan jika ada dua founder dan salah satunya pergi, atau salah satu yang keahlian teknis keluar, itu merupakan masalah yang lebih besar lagi. Perselisihan ini bisa dihindari apabila mereka lebih berhati-hati dalam memilih co-founder yang akan diajak mendirikan perusahaan. Paul menyarankan jangan pernah mendirikan startup dengan orang yang tidak Anda sukai. Memilihnya hanya lantaran memiliki kemampuan yang Anda perlukan dan tidak ingin mencari yang lain, merupakan kesalahan besar. Orang-orang itu merupakan bagian penting dari startup Anda, jadi jangan pernah berkompromi.

18. Usaha setengah-setengah

Ini merupakan salah satu faktor utama kegagalan sebuah startup. Salah satu cirinya bukanlah orang yang sering membuat kesalahan, tapi orang yang tidak melakukan apa-apa sama sekali. Paul mengungkapkan secara statistik, jika ingin menghindari kegagalan, hal utama yang perlu dilakukan adalah meninggalkan pekerjaan utama dan fokus terhadap startup Anda. Sebagian startup gagal karena foundernya tidak meninggalkan pekerjaan utama mereka, dan kebanyakan startup yang sukses karena sang founder melakukannya. Untuk lebih singkat Anda juga dapat melihat dan memahami 18 kesalahan di atas dalam sebuah infografis yang dibuat oleh Funder and Founder, sebuah perusahaan pembuat infografis.

Baca juga: 15 of The best Quotes from Jack Ma’s Interview at Davos

18-Mistakes-That-Kill-Startups

source by : http://goo.gl/DgUh6H

Page 2 of 2

Powered by Foodinhands & Design by Inhands Agency

DAPATKAN INFO SEPUTAR DIGITAL BUSINESS, ENTREPRENEUR, MOTIVATION & INSPIRATION DARI DEO CARDI NATHANAEL
x
DAPATKAN INFO SEPUTAR DIGITAL BUSINESS, ENTREPRENEUR, MOTIVATION & INSPIRATION DARI DEO CARDI NATHANAEL
x